Sabtu, 14 Mei 2016

Festival Palang Pintu

 
Melihat Lebih Dekat Tradisi Palang Pintu di Festival Palang Pintu
Tradisi Palang Pintu merupakan salah satu tradisi yang menjadi identitas masyarakat Betawi Di Jakarta. Tradisi ini menjadi bagian dalam prosesi upacara pernikahan adat Betawi sejak zaman nenek moyang.

Perpaduan silat dan seni pantun yang jenaka menjadi hal yang dominan dalam tradisi Palang Pintu. Hal inilah yang kemudian menjadi landasan digelarnya festival tahunan bernama Festival Palang Pintu yang bertempat di Kawasan Kemang, Jakarta.

Bertempat di Jalan Kemang Raya, Festival Palang Pintu selalu diadakan setiap bulan Juni atau biasanya berbarengan dengan ulang tahun Kota Jakarta. Seni budaya Betawi menjadi sajian utama dari festival yang sudah digelar bertahun-tahun ini. Titik beratnya mengangkat budaya betawi karena belakangan budaya masyarakat asli Jakarta ini semakin tergeser kedudukannya oleh budaya luar.

Sesuai namanya, festival ini mempertunjukan segala sesuatu yang berkaitan dengan tradisi Palang Pintu. Mulai dari menghadirkan kedua mempelai pengantin hingga mendatangkan para jawara silat Betawi. Para Pemantun pun tidak mau ketinggalan mengisi festival yang biasanya berlangsung selama dua hari ini.

Festival ini dibuka dengan kehadiran rombongan pengantin berbusana adat betawi lengkap dengan atribut khas diiringi alunan musik rebana. Roti buaya yang menjadi kuliner wajib menjadi pendamping yang tidak luput dari iring-iringan rombongan pengantin.

Dalam festival ini, kontes tradisi palang pintu menjadi bagian penting yang dilombakan. Lomba ini memiliki tujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Betawi ke masyarakat yang hadir dari segala penjuru di festival ini.

Selain itu, Festival Palang Pintu juga memiliki tujuan mensosialisasikan seni budaya tradisional Betawi dan menjadi media untuk mempertahankan dan melestarikan budaya Betawi. Festival ini juga menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi dari para pegiat seni dan tokoh budaya Betawi.

Selain menjadi ajang memperkenalkan budaya, festival ini juga tidak ketinggalan menampilkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat Betawi. Kehadiran berbagai macam bazar dan pasar kuliner menjadikan festival ini begitu semarak.

Bagi pengunjung yang ingin mencicipi sajian khas makanan dan minuman khas Betawi, di festival ini juga dihadirkan aneka kuliner Betawi. Mulai dari bir pletok hingga soto Betawi yang lezat bisa dinikmati saat mengunjungi Festival Palang Pintu.

Pada penutupan festival, Festival Palang Pintu menampilkan aneka kesenian tari khas Betawi yang sudah jarang ditampilkan. Tarian seperti Tari Kembang Tarub, Tari Topeng, Tari Lenggang Nyai menjadi tarian yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Festival ini juga menjadi lebih semarak dengan hadirnya sajian musik tanjidor yang menjadi pendamping boneka raksasa ondel-ondel. Rangkaian acara yang menghibur para pengunjung dalam Festival Palang Pintu menjadikan event tahunan ini terlihat begitu sangat meriah.

Budaya Ngawi Ramah

 

Ritual Keduk Beji Diharapkan Bisa Dukung "Visit Ngawi Year 2017"

Rabu, 14 Oktober 2015 19:48 WIB
TRADISI: Ritual Keduk Beji di pemandian Tawun, di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Ngawi. foto: zainal abidin/BANGSAONLINE
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Ritual Keduk Beji yang diwariskan secara turun temurun masyarakat Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, diharapkan menjadi salah satu ikon pariwisata Kabupaten Ngawi dan mendukung program Visit Ngawi Year 2017. Pemkab Ngawi melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga (Disparyapura) terus berupaya agar tradisi tersebut tetap lestari dan meningkatkan perekonomian warga setempat.
Ritual Keduk Beji merupakan ritual yang digelar setiap awal tahun baru Hijriah atau awal bulan Suro, di pemandian alam yang dikenal dengan nama pemandian Tawun, di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meski demikian, berbagai sumber menyebut jika Ritual Keduk Beji kerap digelar pada hari Selasa Kliwon atau yang biasa digelar setiap masa panen raya selesai. Untuk tahun ini, ritual tersebut digelar Selasa, 13 Oktober 2015. Ritual digelar sebagai sarana penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo atas sumber penghidupan Keduk Beji.
Kepala Disparyapura Ngawi, Anwar Rifai, menyatakan, budaya Keduk Beji perlu dilestarikan dalam rangka menambah kancah wacana kebudayaan dan pengelolaan ekonomi masyarakat. Pihaknya pun berupaya agar Keduk Beji, bagian dari seni budaya, yang juga bagian dari ekonomi kreatif, bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Makanya kami juga membranding budaya Keduk Beji agar bisa dikenal secara luas oleh warga luar Ngawi. Kalau bisa hingga kancah internasional,” imbuh Kabid Kebudayaan Disparyapura Ngawi, Sukadi, MPD, Rabu (14/10).
Kepala Desa Tawun, Pramudianto menyatakan, acara tahunan di Desa Tawun tersebut, intinya untuk menghormati leluhur desa Tawun, yang bernama Eyang Ludro Joyo. Katanya pembiayaan kegiatan tersebut diambil dari dana swadaya masyarakat desa. Ia menyebut, acara Keduk Beji menelan dana sekitar Rp 15 juta. “Kami berharap tradisi Keduk Beji ini juga mendukung program pemkab Ngawi, Visit Ngawi Year 2017,” cetusnya.
Sementara, inti ritual Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi berisi air legen di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber. Selain itu ada juga pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga pria, pemuda, dan anak laki-laki desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.
Dalam proses ini, diwarnai mandi lumpur oleh para pemuda yang terjun ke air, serta saling pukul dengan kayu. Ritual ditutup dengan berebut dan memakan sesaji berupa nasi yang diletakkan di atas daun pisang. "Semua kegiatan ritual ini mengandung nilai gotong royong dan saling memaafkan," ujar sesepuh Desa Tawun selaku Juru Silep, Supomo.

 
Warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, siang tadi menggelar ritual keduk beji, di sumber air yang ada di dalam lingkungan wisata kolam pemandian umum tawun.

Tradisi dan upacara adat Keduk Beji yang digelar setahun sekali oleh warga setempat ini, bertujuan untuk melestarikan budaya yang bisa menjadi ikon pariwisata daerah setempat.

Inti dari upacara Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber.

Selain itu ada juga pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga pria, pemuda, dan anak laki-laki desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.

Dalam proses ini, diwarnai mandi lumpur oleh para pemuda yang terjun ke air, serta saling pukul antar pemuda dengan kayu. Tak jarang bekas pukulan di bandan tersebut meninggalkan luka memar hingga berdarah.
Setelah itu ritual ditutup dengan berebut dan memakan sesaji berupa nasi yang diletakkan di atas daun pisang.

"Semua kegiatan ritual ini mengandung nilai gotong royong dan saling maaf memaafkan. Dan kegiatan iniselalu dilaksanakan pada Selasa Kliwon," ujar Sesepuh Desa Tawun selaku Juru Silep, Mbah Wo Pomo, Selasa (13/10/2015).

Adanya tradisi ini selalu menjadi daya tarik tersendiri yang membuat wisatawan lokal maupun luar Ngawi untuk datang dan menyaksikan ritual yang diogelar setahun sekali ini.


Festival Budaya Kalimantan Barat

Festival Budaya Kalimantan Barat

Festival Budaya Binua Landak (FBBL)
salah satu event bukan saja masuk dalam kalender Kabupaten Landak tapi sudah masuk kalender wisata Provinsi Kalbar.
Bahkan rencana diagendakan tahun 2010 sampai 2011 masuk dalam kalender Nasional. FBBL digelar setiap bulan Oktober oleh jajaran Pemkab Landak melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata (Disporabudpar) Landak dengan peserta dari 13 Kecamatan yang ada di Kabupaten Landak. Sedangkan jenis kegiatan diantaranya lomba solo lagu daerah putra-putri (dayak dan melayu), lomba tari kreasi daerah (dayak dan melayu), pemilihan bujagk tarigas man dara edo’ (dayak dan melayu). Lomba menyumpit dan uri gasingk dan dimeriahkan juga pameran pembangunan dari unsur kecamatan, instansi kabupaten baik pemerintah dan swasta.
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK).
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa diselenggarakan setiap November , tahun 2010 adalah yang X. Adapun acaranya meliputi pawai budaya, pemilihan bujang dare wisata khatulistiwa, parade lagu daerah, parade tari daerah, lomba makanan khas daerah, lomba layang-layang hias, lomba merias pengantin melayu, lomba tanjidor, festival barongsai, lomba merancang busana pengantin dayak, lomba syair dan pantun, lomba gasing dan menyumpit
“Melestarikan seni budaya daerah sebagai perekat dan pemersatu antar etnis untuk menuju Kalimantan Barat terbuka” pernah diangkat menjadi sub tema dalam festival Budaya Bumi khatulistiwa IX yang diikuti oleh kabupaten/kota se- Kalimantan Barat, instansi terkait, kalangan usahawan bidang pariwisata, organisasi profesi/asosiasi yang bergerak di bidang pariwisata dan masyarakat luas 
Festival Batu Ballah dan Pagelaran Multi Etnis di Singkawang setiap Mei
Pagelaran yang diselenggarakan pada Mei 2010 , selama tiga hari ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya. Kegiatan ini mempertunjukkan beragam seni budaya tradisional nusantara dari berbagai etnis dan  yang ada di Kota Singkawang. Sementara Lomba Lagu Batu Ballah menjadi ikon dalam penyelenggaraan lomba lagu-lagu daerah di Kalimantan Barat.
“Dinamakan Festival Batu Ballah untuk lomba lagu-lagu daerah, karena merupakan judul lagu daerah yang sudah sangat dikenal (di Kalbar). Batu Ballah merupakan judul lagu daerah yang sudah populer, dan untuk menjaga nilai-nilai budaya, istilah tersebut kami jadikan title untuk acara lomba lagu daerah ungkap Kepala Dinas Budparpora Kota Singkawang selaku ketua panitia penyelenggara, Drs Syech Bandar MSi.
Tujuan dari pagelaran yang dibuka bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ini yaitu untuk mempererat tali silaturahmi antar etnis, agar saling lebih mengenal dan menghargai.
dalam pagelaran ini adalah sebagai wadah mempromosikan seni budaya, kuliner, dan lagu-lagu daerah Kalbar, sekaligus memfasilitasi keinginan masyarakat untuk berkarya dan melestarikan nilai-nilai seni budaya daerah. dan mewujudkan Kota Singkawang sebagai destinasi pariwisata.
Festival cap go meh.
Visit kalbar 2010 yang diantaranya dikemas dalam kegiatan imlek dan cap go meh di dua lokasi yaitu kota pontianak dan singkawang berdampak positif terhadap berbagai sektor kehidupan, terutama sektor transportasi.karenanya sektor inilah otomatis dapat mendorong peningkatan pengguna jasa tour and travel di daerah ini.

sumber :  https://wisatakalimantan.wordpress.com/2010/11/16/festival-budaya-kalimantan-barat/

 Festival Budaya Indonesia

1. Festival Perang NTT Ada di Bulan Ini

Festival Perang NTT Ada di Bulan Ini



NUSA Tenggara Timur tak hanya menyimpan keindahan alam. Tetapi, memiliki festival yang menampilkan kegagahan pejuang perang.
Tentunya para pejuang perang tersebut bukanlah orang-orang yang tengah berjuang dalam peperangan.
Namun, kegagahan sekelompok pria dapat terlihat dalam Festival Pasola Lamboya yang biasanya digelar pada bulan Februari hingga April setiap tahunnya.
Festival perang-perangan ini bisa dilihat di Pulau Sumba sekira pukul 08.00 hingga 12.00 WITA. Biasanya, festival ini dilakukan di tiga tempat berbeda, yaitu di wilayah Wanokaka, Lamboya dan Gaura.
Aksi perang-perangan ini dilakukan oleh dua kelompok pria yang terdiri dari sekria 100 pemuda per kelompoknya. Aktivitas peperangan mereka pun lakukan dengan gagah dari atas kuda yang ditunggangi.

Ada yang unik sekaligus cukup mengerikan dari festival ini. Pasalnya, perang-perangan ini cukup menantang karena dapat menimbulkan korban dari serangan tombak kayu yang dilemparkan dari atas kuda.
Namun, justru semakin banyak korban dianggap sebagai hal yang bagus oleh penduduk setempat. Karena mereka yakin, hal tersebut adalah suatu pertanda hasil usaha mereka bakal melimpah di tahun berikutnya.
Jika ingin menyaksikan sesuatu yang berbeda, cobalah datang ke Pulau Sumba dan menyaksikan festival ini pada bulan Februari, Maret dan April.
Karena festival ini merupakan tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Demikian dilansir dari situs resmi Pemerintah Provinsi NTT.




2.Festival Budaya Asmat dan Lembah Baliem di Papua

 

Kebudayaan Papua
Kebudayaan Papua 
Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan. Dari mulai kuliner, tempat wisata, kebudayaan, sampai kebiasan-kebiasaan unik warganya. Hal-hal seperti ini yang membuat negara kita begitu menarik.
Salah satu kekhasan yang dimiliki tiap daerah adalah cara merayakan atau memperingati sesuatu. Misalnya festival budaya yang diadakan secara rutin. Acara seperti ini umumnya menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Di Papua, ada beberapa festival yang dikenal bahkan oleh turis mancanegara. Di antaranya, Festival Budaya Asmat dan Festival Lembah Baliem.

Festival Budaya Asmat

Kegiatan Festival Budaya Asmat ini sudah ada sejak tahun 1981 dan rutin diadakan setiap tahunnya. Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain menampilkan pertunjukan tarian dan musik, lelang patung, demo membuat ukiran, lomba perahu, dan pemilihan abang none Asmat.
Salah satu tujuan diadakannya festival ini adalah mempertahankan Asmat sebagai situs budaya dan memperkenalkan Kabupaten Asmat sebagai tujuan wisata. Selain itu juga demi melestarikan nilai-nilai budaya suku Asmat.
Suku Asmat sendiri dikenal dengan seni ukirannya, yang tak hanya dianggap sebagai karya seni, melainkan erat kaitannya dengan roh leluhur, dikutip Tempo.
Festival tahunan ini telah mendapatkan penghargaan dunia sebagai situs warisan budaya. Sebenarnya, festival biasa diadakan pada bulan Oktober, namun karena kemarau berkepanjangan, Festival Budaya Asmat diundur sampai Januari 2016 ini,

Festival Budaya Asmat dan Lembah Baliem di Papua

Kebudayaan Papua
Kebudayaan Papua 
Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan. Dari mulai kuliner, tempat wisata, kebudayaan, sampai kebiasan-kebiasaan unik warganya. Hal-hal seperti ini yang membuat negara kita begitu menarik.
Salah satu kekhasan yang dimiliki tiap daerah adalah cara merayakan atau memperingati sesuatu. Misalnya festival budaya yang diadakan secara rutin. Acara seperti ini umumnya menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Di Papua, ada beberapa festival yang dikenal bahkan oleh turis mancanegara. Di antaranya, Festival Budaya Asmat dan Festival Lembah Baliem.

Festival Budaya Asmat

Kegiatan Festival Budaya Asmat ini sudah ada sejak tahun 1981 dan rutin diadakan setiap tahunnya. Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain menampilkan pertunjukan tarian dan musik, lelang patung, demo membuat ukiran, lomba perahu, dan pemilihan abang none Asmat.
Salah satu tujuan diadakannya festival ini adalah mempertahankan Asmat sebagai situs budaya dan memperkenalkan Kabupaten Asmat sebagai tujuan wisata. Selain itu juga demi melestarikan nilai-nilai budaya suku Asmat.
Suku Asmat sendiri dikenal dengan seni ukirannya, yang tak hanya dianggap sebagai karya seni, melainkan erat kaitannya dengan roh leluhur, dikutip Tempo.
Festival tahunan ini telah mendapatkan penghargaan dunia sebagai situs warisan budaya. Sebenarnya, festival biasa diadakan pada bulan Oktober, namun karena kemarau berkepanjangan, Festival Budaya Asmat diundur sampai Januari 2016 ini, 

Festival Lembah Baliem

Lembah Baliem merupakan sebuah lembah yang berada di pegunungan Jayawijaya. Lembah ini juga dikenal sebagai tempat tinggal suku Dani, suku Yali dan suku Lani.
Festival Lembah Baliem awalnya merupakan gelaran perang antar suku Dani, Lani, dan Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Ajang adu kekuatan antar suku ini telah berlangsung turun temurun hingga saat ini. Kegiatan ini biasanya berlangsung selama tiga hari setiap bulan Agustus.
Hal yang istimewa dari Festival Lembah Baliem adalah semuanya dibuat layaknya peperangan sungguhan. Pertunjukan akan dimulai dengan cerita penculikan warga, pembunuhan anak suku, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka. Pemicu-pemicu tersebut akan membuat suku lain akan membalas dendam dan perang pun terjadi.
Meski menunjukkan kisah peperangan, pertunjukan ini tak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema besar. Adanya festival ini memiliki makna positif yaitu Yogotak Hubuluk Motog Hanoro yang berarti harapan akan esok hari yang harus lebih baik dari hari ini, demikian dikutip PesonaIndonesia.
Selain pertunjukkan peperangan, ada berbagai tradisi suku-suku setempat yang dapat dinikmati pengunjung. Selama festival berlangsung, akan ada lebih dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah mereka.
KIta juga dapat menyaksikan pertunjukan pikon atau alat musik tradisional, karapan babi, perlombaan memanah, melempar sege atau tongkat ke sasaran, puradan yaitu menggulirkan roda dari anyaman rotan, dan sikoko yaitu melempar pion ke sasaran.
Wisatawan juga dapat mencoba untuk menghayati budaya Lembah Baliem dengan memakai koteka dan menghitamkan tubuhnya sebagaimana penduduk asli era dulu sehingga turut menyemarakkan suasana festival, seperti dikutip NationalGeographic.