Melihat Lebih Dekat Tradisi Palang Pintu di Festival Palang Pintu
Tradisi
Palang Pintu merupakan salah satu tradisi yang menjadi identitas
masyarakat Betawi Di Jakarta. Tradisi ini menjadi bagian dalam prosesi
upacara pernikahan adat Betawi sejak zaman nenek moyang.
Perpaduan
silat dan seni pantun yang jenaka menjadi hal yang dominan dalam
tradisi Palang Pintu. Hal inilah yang kemudian menjadi landasan
digelarnya festival tahunan bernama Festival Palang Pintu yang bertempat
di Kawasan Kemang, Jakarta.
Bertempat di Jalan Kemang Raya,
Festival Palang Pintu selalu diadakan setiap bulan Juni atau biasanya
berbarengan dengan ulang tahun Kota Jakarta. Seni budaya Betawi menjadi
sajian utama dari festival yang sudah digelar bertahun-tahun ini. Titik
beratnya mengangkat budaya betawi karena belakangan budaya masyarakat
asli Jakarta ini semakin tergeser kedudukannya oleh budaya luar.
Sesuai
namanya, festival ini mempertunjukan segala sesuatu yang berkaitan
dengan tradisi Palang Pintu. Mulai dari menghadirkan kedua mempelai
pengantin hingga mendatangkan para jawara silat Betawi. Para Pemantun
pun tidak mau ketinggalan mengisi festival yang biasanya berlangsung
selama dua hari ini.
Festival ini dibuka dengan kehadiran
rombongan pengantin berbusana adat betawi lengkap dengan atribut khas
diiringi alunan musik rebana. Roti buaya yang menjadi kuliner wajib
menjadi pendamping yang tidak luput dari iring-iringan rombongan
pengantin.
Dalam festival ini, kontes tradisi palang pintu
menjadi bagian penting yang dilombakan. Lomba ini memiliki tujuan untuk
melestarikan dan memperkenalkan budaya Betawi ke masyarakat yang hadir
dari segala penjuru di festival ini.
Selain itu, Festival Palang
Pintu juga memiliki tujuan mensosialisasikan seni budaya tradisional
Betawi dan menjadi media untuk mempertahankan dan melestarikan budaya
Betawi. Festival ini juga menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi dari
para pegiat seni dan tokoh budaya Betawi.
Selain menjadi ajang
memperkenalkan budaya, festival ini juga tidak ketinggalan menampilkan
segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat Betawi. Kehadiran
berbagai macam bazar dan pasar kuliner menjadikan festival ini begitu
semarak.
Bagi pengunjung yang ingin mencicipi sajian khas
makanan dan minuman khas Betawi, di festival ini juga dihadirkan aneka
kuliner Betawi. Mulai dari bir pletok hingga soto Betawi yang lezat bisa
dinikmati saat mengunjungi Festival Palang Pintu.
Pada
penutupan festival, Festival Palang Pintu menampilkan aneka kesenian
tari khas Betawi yang sudah jarang ditampilkan. Tarian seperti Tari
Kembang Tarub, Tari Topeng, Tari Lenggang Nyai menjadi tarian yang
sangat sayang untuk dilewatkan.
Festival ini juga menjadi lebih
semarak dengan hadirnya sajian musik tanjidor yang menjadi pendamping
boneka raksasa ondel-ondel. Rangkaian acara yang menghibur para
pengunjung dalam Festival Palang Pintu menjadikan event tahunan ini
terlihat begitu sangat meriah.
Budaya Ngawi Ramah
Ritual Keduk Beji Diharapkan Bisa Dukung "Visit Ngawi Year 2017"
Rabu, 14 Oktober 2015 19:48 WIB
TRADISI: Ritual Keduk Beji di pemandian Tawun, di Desa Tawun,
Kecamatan Kasreman, Ngawi. foto: zainal abidin/BANGSAONLINE
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Ritual Keduk Beji yang
diwariskan secara turun temurun masyarakat Desa Tawun, Kecamatan
Kasreman, Kabupaten Ngawi, diharapkan menjadi salah satu ikon pariwisata
Kabupaten Ngawi dan mendukung program Visit Ngawi Year 2017. Pemkab
Ngawi melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga
(Disparyapura) terus berupaya agar tradisi tersebut tetap lestari dan
meningkatkan perekonomian warga setempat.
Ritual Keduk Beji
merupakan ritual yang digelar setiap awal tahun baru Hijriah atau awal
bulan Suro, di pemandian alam yang dikenal dengan nama pemandian Tawun,
di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meski
demikian, berbagai sumber menyebut jika Ritual Keduk Beji kerap digelar
pada hari Selasa Kliwon atau yang biasa digelar setiap masa panen raya
selesai. Untuk tahun ini, ritual tersebut digelar Selasa, 13 Oktober
2015. Ritual digelar sebagai sarana penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo
atas sumber penghidupan Keduk Beji.
Kepala Disparyapura Ngawi,
Anwar Rifai, menyatakan, budaya Keduk Beji perlu dilestarikan dalam
rangka menambah kancah wacana kebudayaan dan pengelolaan ekonomi
masyarakat. Pihaknya pun berupaya agar Keduk Beji, bagian dari seni
budaya, yang juga bagian dari ekonomi kreatif, bisa meningkatkan ekonomi
masyarakat.
“Makanya kami juga membranding budaya Keduk Beji agar
bisa dikenal secara luas oleh warga luar Ngawi. Kalau bisa hingga
kancah internasional,” imbuh Kabid Kebudayaan Disparyapura Ngawi,
Sukadi, MPD, Rabu (14/10).
Kepala Desa Tawun, Pramudianto
menyatakan, acara tahunan di Desa Tawun tersebut, intinya untuk
menghormati leluhur desa Tawun, yang bernama Eyang Ludro Joyo. Katanya
pembiayaan kegiatan tersebut diambil dari dana swadaya masyarakat desa.
Ia menyebut, acara Keduk Beji menelan dana sekitar Rp 15 juta. “Kami
berharap tradisi Keduk Beji ini juga mendukung program pemkab Ngawi,
Visit Ngawi Year 2017,” cetusnya.
Sementara, inti ritual Keduk
Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi berisi air legen di
pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang
terdapat di dalam sumber. Selain itu ada juga pengedukkan atau
pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga pria, pemuda,
dan anak laki-laki desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan
daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.
Dalam
proses ini, diwarnai mandi lumpur oleh para pemuda yang terjun ke air,
serta saling pukul dengan kayu. Ritual ditutup dengan berebut dan
memakan sesaji berupa nasi yang diletakkan di atas daun pisang. "Semua
kegiatan ritual ini mengandung nilai gotong royong dan saling
memaafkan," ujar sesepuh Desa Tawun selaku Juru Silep, Supomo.
Warga Desa Tawun,
Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, siang tadi menggelar ritual keduk
beji, di sumber air yang ada di dalam lingkungan wisata kolam pemandian
umum tawun.
Tradisi dan upacara adat Keduk Beji yang digelar
setahun sekali oleh warga setempat ini, bertujuan untuk melestarikan
budaya yang bisa menjadi ikon pariwisata daerah setempat.
Inti
dari upacara Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi
di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua
yang terdapat di dalam sumber.
Selain itu ada juga pengedukkan
atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga pria,
pemuda, dan anak laki-laki desa terjun ke air sumber untuk mengambil
sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.
Dalam
proses ini, diwarnai mandi lumpur oleh para pemuda yang terjun ke air,
serta saling pukul antar pemuda dengan kayu. Tak jarang bekas pukulan di
bandan tersebut meninggalkan luka memar hingga berdarah.
Setelah itu ritual ditutup dengan berebut dan memakan sesaji berupa nasi yang diletakkan di atas daun pisang.
"Semua
kegiatan ritual ini mengandung nilai gotong royong dan saling maaf
memaafkan. Dan kegiatan iniselalu dilaksanakan pada Selasa Kliwon," ujar
Sesepuh Desa Tawun selaku Juru Silep, Mbah Wo Pomo, Selasa
(13/10/2015).
Adanya tradisi ini selalu menjadi daya tarik
tersendiri yang membuat wisatawan lokal maupun luar Ngawi untuk datang
dan menyaksikan ritual yang diogelar setahun sekali ini.
salah satu event bukan saja masuk dalam kalender Kabupaten Landak tapi sudah masuk kalender wisata Provinsi Kalbar. Bahkan
rencana diagendakan tahun 2010 sampai 2011 masuk dalam kalender
Nasional. FBBL digelar setiap bulan Oktober oleh jajaran Pemkab Landak
melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata (Disporabudpar)
Landak dengan peserta dari 13 Kecamatan yang ada di Kabupaten Landak.
Sedangkan jenis kegiatan diantaranya lomba solo lagu daerah putra-putri
(dayak dan melayu), lomba tari kreasi daerah (dayak dan melayu),
pemilihan bujagk tarigas man dara edo’ (dayak dan melayu). Lomba
menyumpit dan uri gasingk dan dimeriahkan juga pameran pembangunan dari
unsur kecamatan, instansi kabupaten baik pemerintah dan swasta.
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK).
Festival
Budaya Bumi Khatulistiwa diselenggarakan setiap November , tahun 2010
adalah yang X. Adapun acaranya meliputi pawai budaya, pemilihan bujang
dare wisata khatulistiwa, parade lagu daerah, parade tari daerah, lomba
makanan khas daerah, lomba layang-layang hias, lomba merias pengantin
melayu, lomba tanjidor, festival barongsai, lomba merancang busana
pengantin dayak, lomba syair dan pantun, lomba gasing dan menyumpit
“Melestarikan seni budaya daerah sebagai perekat dan pemersatu
antar etnis untuk menuju Kalimantan Barat terbuka” pernah diangkat
menjadi sub tema dalam festival Budaya Bumi khatulistiwa IX yang diikuti
oleh kabupaten/kota se- Kalimantan Barat, instansi terkait, kalangan
usahawan bidang pariwisata, organisasi profesi/asosiasi yang bergerak di
bidang pariwisata dan masyarakat luas
Festival Batu Ballah dan Pagelaran Multi Etnis di Singkawang setiap Mei
Pagelaran yang diselenggarakan pada Mei 2010 , selama tiga hari ini
merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya. Kegiatan ini
mempertunjukkan beragam seni budaya tradisional nusantara dari berbagai
etnis dan yang ada di Kota Singkawang. Sementara Lomba Lagu Batu Ballah
menjadi ikon dalam penyelenggaraan lomba lagu-lagu daerah di Kalimantan
Barat.
“Dinamakan Festival Batu Ballah untuk lomba lagu-lagu daerah, karena
merupakan judul lagu daerah yang sudah sangat dikenal (di Kalbar). Batu
Ballah merupakan judul lagu daerah yang sudah populer, dan untuk menjaga
nilai-nilai budaya, istilah tersebut kami jadikan title untuk acara
lomba lagu daerah ungkap Kepala Dinas Budparpora Kota Singkawang selaku
ketua panitia penyelenggara, Drs Syech Bandar MSi.
Tujuan dari pagelaran yang dibuka bertepatan dengan Hari Kebangkitan
Nasional ini yaitu untuk mempererat tali silaturahmi antar etnis, agar
saling lebih mengenal dan menghargai.
dalam pagelaran ini adalah sebagai wadah mempromosikan seni budaya,
kuliner, dan lagu-lagu daerah Kalbar, sekaligus memfasilitasi keinginan
masyarakat untuk berkarya dan melestarikan nilai-nilai seni budaya
daerah. dan mewujudkan Kota Singkawang sebagai destinasi pariwisata.
Festival cap go meh.
Visit kalbar 2010 yang diantaranya dikemas dalam kegiatan imlek dan cap
go meh di dua lokasi yaitu kota pontianak dan singkawang berdampak
positif terhadap berbagai sektor kehidupan, terutama sektor
transportasi.karenanya sektor inilah otomatis dapat mendorong
peningkatan pengguna jasa tour and travel di daerah ini.
sumber : https://wisatakalimantan.wordpress.com/2010/11/16/festival-budaya-kalimantan-barat/
Festival Budaya Indonesia
1. Festival Perang NTT Ada di Bulan Ini
NUSA Tenggara Timur tak hanya menyimpan keindahan alam. Tetapi, memiliki festival yang menampilkan kegagahan pejuang perang.
Tentunya para pejuang perang tersebut bukanlah orang-orang yang tengah berjuang dalam peperangan.
Namun, kegagahan sekelompok pria dapat terlihat dalam Festival Pasola
Lamboya yang biasanya digelar pada bulan Februari hingga April setiap
tahunnya.
Festival perang-perangan ini bisa dilihat di Pulau Sumba sekira pukul
08.00 hingga 12.00 WITA. Biasanya, festival ini dilakukan di tiga
tempat berbeda, yaitu di wilayah Wanokaka, Lamboya dan Gaura.
Aksi perang-perangan ini dilakukan oleh dua kelompok pria yang
terdiri dari sekria 100 pemuda per kelompoknya. Aktivitas peperangan
mereka pun lakukan dengan gagah dari atas kuda yang ditunggangi.
Ada yang unik sekaligus cukup mengerikan dari festival ini. Pasalnya,
perang-perangan ini cukup menantang karena dapat menimbulkan korban
dari serangan tombak kayu yang dilemparkan dari atas kuda.
Namun, justru semakin banyak korban dianggap sebagai hal yang bagus
oleh penduduk setempat. Karena mereka yakin, hal tersebut adalah suatu
pertanda hasil usaha mereka bakal melimpah di tahun berikutnya.
Jika ingin menyaksikan sesuatu yang berbeda, cobalah datang ke Pulau
Sumba dan menyaksikan festival ini pada bulan Februari, Maret dan April.
Karena festival ini merupakan tradisi yang telah dilakukan secara
turun-temurun dari nenek moyang mereka. Demikian dilansir dari situs
resmi Pemerintah Provinsi NTT.
2.Festival Budaya Asmat dan Lembah Baliem di Papua
Kebudayaan Papua Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan. Dari mulai
kuliner, tempat wisata, kebudayaan, sampai kebiasan-kebiasaan unik
warganya. Hal-hal seperti ini yang membuat negara kita begitu menarik.
Salah
satu kekhasan yang dimiliki tiap daerah adalah cara merayakan atau
memperingati sesuatu. Misalnya festival budaya yang diadakan secara
rutin. Acara seperti ini umumnya menarik minat wisatawan, baik lokal
maupun mancanegara.
Di Papua, ada beberapa festival yang dikenal
bahkan oleh turis mancanegara. Di antaranya, Festival Budaya Asmat dan
Festival Lembah Baliem.
Festival Budaya Asmat
Kegiatan Festival Budaya Asmat
ini sudah ada sejak tahun 1981 dan rutin diadakan setiap tahunnya.
Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain menampilkan pertunjukan tarian
dan musik, lelang patung, demo membuat ukiran, lomba perahu, dan
pemilihan abang none Asmat.
Salah satu tujuan diadakannya festival
ini adalah mempertahankan Asmat sebagai situs budaya dan memperkenalkan
Kabupaten Asmat sebagai tujuan wisata. Selain itu juga demi
melestarikan nilai-nilai budaya suku Asmat.
Suku Asmat sendiri
dikenal dengan seni ukirannya, yang tak hanya dianggap sebagai karya
seni, melainkan erat kaitannya dengan roh leluhur, dikutip Tempo.
Festival
tahunan ini telah mendapatkan penghargaan dunia sebagai situs warisan
budaya. Sebenarnya, festival biasa diadakan pada bulan Oktober, namun
karena kemarau berkepanjangan, Festival Budaya Asmat diundur sampai
Januari 2016 ini,
Festival Budaya Asmat dan Lembah Baliem di Papua
Kebudayaan Papua Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan. Dari mulai
kuliner, tempat wisata, kebudayaan, sampai kebiasan-kebiasaan unik
warganya. Hal-hal seperti ini yang membuat negara kita begitu menarik.
Salah
satu kekhasan yang dimiliki tiap daerah adalah cara merayakan atau
memperingati sesuatu. Misalnya festival budaya yang diadakan secara
rutin. Acara seperti ini umumnya menarik minat wisatawan, baik lokal
maupun mancanegara.
Di Papua, ada beberapa festival yang dikenal
bahkan oleh turis mancanegara. Di antaranya, Festival Budaya Asmat dan
Festival Lembah Baliem.
Festival Budaya Asmat
Kegiatan Festival Budaya Asmat
ini sudah ada sejak tahun 1981 dan rutin diadakan setiap tahunnya.
Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain menampilkan pertunjukan tarian
dan musik, lelang patung, demo membuat ukiran, lomba perahu, dan
pemilihan abang none Asmat.
Salah satu tujuan diadakannya festival
ini adalah mempertahankan Asmat sebagai situs budaya dan memperkenalkan
Kabupaten Asmat sebagai tujuan wisata. Selain itu juga demi
melestarikan nilai-nilai budaya suku Asmat.
Suku Asmat sendiri
dikenal dengan seni ukirannya, yang tak hanya dianggap sebagai karya
seni, melainkan erat kaitannya dengan roh leluhur, dikutip Tempo.
Festival
tahunan ini telah mendapatkan penghargaan dunia sebagai situs warisan
budaya. Sebenarnya, festival biasa diadakan pada bulan Oktober, namun
karena kemarau berkepanjangan, Festival Budaya Asmat diundur sampai
Januari 2016 ini,
Festival Lembah Baliem
Lembah Baliem
merupakan sebuah lembah yang berada di pegunungan Jayawijaya. Lembah
ini juga dikenal sebagai tempat tinggal suku Dani, suku Yali dan suku
Lani.
Festival Lembah Baliem awalnya merupakan gelaran perang
antar suku Dani, Lani, dan Yali sebagai lambang kesuburan dan
kesejahteraan. Ajang adu kekuatan antar suku ini telah berlangsung turun
temurun hingga saat ini. Kegiatan ini biasanya berlangsung selama tiga
hari setiap bulan Agustus.
Hal yang istimewa dari Festival Lembah Baliem
adalah semuanya dibuat layaknya peperangan sungguhan. Pertunjukan akan
dimulai dengan cerita penculikan warga, pembunuhan anak suku, atau
penyerbuan ladang yang baru dibuka. Pemicu-pemicu tersebut akan membuat
suku lain akan membalas dendam dan perang pun terjadi.
Meski
menunjukkan kisah peperangan, pertunjukan ini tak menjadikan balas
dendam atau permusuhan sebagai tema besar. Adanya festival ini memiliki
makna positif yaitu Yogotak Hubuluk Motog Hanoro yang berarti harapan akan esok hari yang harus lebih baik dari hari ini, demikian dikutip PesonaIndonesia.
Selain
pertunjukkan peperangan, ada berbagai tradisi suku-suku setempat yang
dapat dinikmati pengunjung. Selama festival berlangsung, akan ada lebih
dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah
mereka.
KIta juga dapat menyaksikan pertunjukan pikon atau alat
musik tradisional, karapan babi, perlombaan memanah, melempar sege atau
tongkat ke sasaran, puradan yaitu menggulirkan roda dari anyaman rotan,
dan sikoko yaitu melempar pion ke sasaran.
Wisatawan juga dapat
mencoba untuk menghayati budaya Lembah Baliem dengan memakai koteka dan
menghitamkan tubuhnya sebagaimana penduduk asli era dulu sehingga turut
menyemarakkan suasana festival, seperti dikutip NationalGeographic.